Monday, April 29, 2013

Paduan Semangat

Suara malam, coba kurangkai
Paduan semangat saat kita bersama
Serasa mudah melihat kedepan
Bahkan waktu yang lama itu terasa dekat
Bagai kemarin baru terjadi

Paduan semangat sedari dulu
Kita terlahir didalam jiwa itu
Bahkan demi harga diri
Kita terus berjuang dan berkorban

Untuk mereka yang telah memulai
Untuk mereka yang telah dibunuh
Untuk mereka yang telah dipenjara
Kita yang meneruskan......

Sejarah dasarmu, berpijak
Mereka merampas, Harus kau lawan
Jangan berdiam, yakinlah 
Tidak ada yang sia-sia
Kita pasti menggapai masa itu

Padukan langkah, satukan semangat
Bersama kebenaran sejarah
Bintang Kejora akan berkibar.
Untuk selamanya.

By. Phaul Heger
@As Kms April 2013
Free West Papua

Monday, April 15, 2013

Karena Aku Bukan Budak

Bintang tak lagi menghiasi malam
Bahkan rembulan seakan menghilang
Bersembunyi entah dimana
Gelap mencekam malam membisu

Suara bising, jangkrik malam hilang ditelan kesunyian
Suara gemersik dedaunpun bahkan tak terdengar
Suara hembusan malam serasa terhenti
Seiring duka yang terasa, luka yang terjadi
Diatas  tanah yang kaya penuh derita

Sampai kapan cerita kelam ini terus berlangsung
Sampai kapan terbius dalam angan merdeka
Sedangkan nyata masih terbelenggu
Tak sudi ditiri karena aku bukan budak
Tak sudi dijajah karena aku bukan budak

Namun semua itu pasti berlalu
Waktu tak berhenti hanya disini
Masih dan masih, ada dan akan terus ada
Langkah dan semangat perjuangan tetap ada
walau terkekang sang penjajah

Kuyakin disuatu saat nanti.......
Bintangku pasti akan nampak
Mentariku pasti akan bersinar
Bintang kejoraku pasti akan berkibar
Mentariku pasti akan bersinar
Bila nanti saatnya tiba sinari alam kebebasan negeriku
Negara Papua Yang Merdeka.

By. Phaul Heger
@Maguwo April 2013

Ritual Bathin

Demi sebuah Harga Diri dan Kehormatan,

kelasku kugantung

Bukupun tertutup rapat

terasa berat beban sejarah yang harus dipikul

Air mata kering terasa pahit tersimpan dalam dadaku

Terdengar alunan seruling tulang belulang

Dendangkan Nyanyian Jiwa”Hai Tanahku Papua”

Membuat tak bisa berhenti berpikir,walau sebentar,

yang di hutan mengembara tak perna lelah

walau hanya dengan Panah dan Tombak

demi Tanah Perjanjian TUHANnya

Tenggelam dalam lembah sejarah

kutelusuri dimana kesalahan bangsaku hingga harus begini,

Mohon ampun ya Tuhan,Allah Maha Pencipta

Bangsa Papua atas segala dosa bangsaku

Jangan berpaling dari kami

datanglah hari ini

Urapi berkat-Mu

dan datanglah menjadi Raja atas tanah dan bangsa kami

 By  Telius Yikwa

Sunday, April 14, 2013

Kemanakah Ayahku pergi?

Petang sepi, aku bisik mama
Mengapa aku hidup tanpa Ayah?
Mungkinkah aku tinggalkan sanak-saudaraku?

Kemana Ayahku pergi?
Dimana saudara-saudaraku berada?
Siapa yang memangil mereka?
Siapa yang membawa mereka?
Siapa yang menjemputnya?
Bukankah Pemuda Wantara/Papua?
Bukankah Pemudi Wantara/Papua?

Oh…anakku sayang,
anakku manis,
Anakuku yang kucintai
Jangan kau bimbang hatimu….
Jangan kau ragukan jiwamu…
Asal kau genggamkan jejaknya,
jadikan pahlawanmu.

 By  Telius Yikwa

(Perempuan, Tanah Papua)

Jika aku punya tangan,
Ingin kutampar para pemotong serat – serat tubuhku,
Ingin kugampar para penambang daging dan darahku,
Ingin kutinju wajah para penjual dan penggadaiku


Sayang seribu sayang,
Aku tak punya tangan,
Tak bisa ‘lap, tumbu dalam muka, tampeleng, pilang’ mereka.

Jika aku punya kaki,
Ingin kuberanjak sekian kilometer dari posisi tidurku,
Agar mereka yang selalu bicara manis demi dapatkan tubuhku,
Terdiam dan sadar bahwa aku tak menginginkan mereka.

Sayang seribu sayang,
Aku tak punya kaki,
Hingga masih saja ‘dapa paku’ dan ‘dapa kurung’ dalam penjara kasat mata.

Jika aku punya pinggul,
Ingin kugoyangkan dengan keras,
Menghempas tangan – tangan kotor itu,
Kala mereka menggerayangiku.

Sayang seribu sayang,
Aku tak punya pinggul,
Hingga kuku – kuku penuh kuman itu tertancap mulus; Merobek kulit.

Jika aku punya gigi,
Ingin kumakan para penjilat yang menjual keperawananku,
Ingin kumamah pedagang – pedagang tubuh dan selaput dara;
Ingin kucabik para pembual politik.

Sayang seribu sayang,
Aku tak punya gigi,
Hingga bibir dan lidahku terus dikulum mereka.

TAPI …

Aku masih punya mata,
Untuk melihat kebuasan dan kebrutalan mereka di tubuhku.

Aku masih punya jantung,
Untuk memompa darah cinta ini ke seluruh sel tubuhku yang terperkosa.

Aku masih punya hati,
Untuk menyaring racun –racun kepahitan hidup.

Aku masih punya telinga,
Untuk mendengarkan jeritan lapar bocah – bocah dusun sagu.

Aku masih punya otak,
Untuk menerjemahkan persepsi inderaku tentang penderitaan.

Aku masih punya hidung,
Untuk mengendus tubuh – tubuh penuh kuman kekerasan dan keserakahan.

Aku masih punya lidah,
Untuk mengecap nafsu, ketamakan, cinta diri sendiri, kerakusan dalam cumbuan hangat.

Dan aku …

Perempuan tanpa tangan, kaki, pinggul dan gigi ini

Masih punya S-U-A-R-A!!!

Untuk bicara, menjawab, bertanya, menjerit, memaki, menyumpah, melengking, tertawa, berteriak, menyapa, dan bilang, “Stop tipu sa suda!!!”

Karena Aku Papua



Di Copas dari : Phoniks.Palit

Sunday, April 7, 2013

Teruslah Melangkah


Hidup yang tak memihak,  
hari demi hari semakin berat
Kenyataan menjadi pahit tak lagi seperti buaian mimpi yang indah
Kita melangkah walau serasa masih ditempat kita berpijak
Kita melangkah walau kaki masih terasa berat

Ini jalan kita, ini masa kita
Tak harus mundur saat badai terpaan datang
Tak harus menghindar bila ditantang arus global
Kita tetap melangkah

Ayunkan langkahmu selangkah demi selangkah
Menapaki keras dan berliku jalan ini
Jangan pudar saat langkahmu terantuk
Tetaplah pada pijakan seirama, maju dan maju

Detik menit waktu berganti
Ditiap helaan napas kehidupan
Rotasi putaran waktu tetap bersama
Hingga menggapai  cita-citamu.


By. Phaul Heger
@Maguwo 2013