Friday, May 31, 2013

LARA SANG BUNDA


Ketika  Aku berdiri diketinggian  nurani ku ….
Tampak olehku
seorang laki-laki tua berkeriput tengah duduk diam .. sudut bibirnya gemetar menahan tangis
sementara sang bunda yang menumpuk kayu pada tungku api nya  pun
tak henti mengusap kedua matanya…..
anak laki-laki mereka yang baru tumbuh dewasa telah mati…
jejak alas kaki yang tertinggal dihutan itu memberitahukan siapa sang pencabut nyawa anak laki-laki mereka…..
ada luka menganga didadanya..menembus lorong nyawa anak manusia itu
tak mungkin segumpal kepalan tangan jantung anaknya berberdetak lagi
anak  laki-lakimu tak mungkin   kau lihat.. sudah membusuk …
kami meninggalkannya ditepi kali  yang deras itu..
pilu..  ketika berita duka itu diterima…
sang pembawa beritapun tergesa-gesa menembus malam dan hutan
pergi karena tak mau  bertemu sang pencabut nyawa tak berperasaan …..
seuntai kalung manik-manik merah, biru, putih ditinggalkannya  diujung pintu..
itu kalung anak laki-laki mereka …….



Dan di ketinggian nurani ku juga …
Aku lihat .. anak  pemberani yang malang ini menangisi masa mudanya
Biarpun aku hidup aku terpasung derita karena aku dilarang berbeda
Aku pemillik nama ayahku yang dikejar-kejar  dulu hingga kini aku pun mengikuti jejak ayahku
Aku tidak bebas.. tapi mati seperti ini pun bukan pilihan ku


Maafkan aku bunda karena kematian ku yang seperti ini
telah merobek rahim mu yang suci ciptaan Tuhan ...
Maafkan aku karena tubuhku yang kau besarkan dalam cinta
Remuk dan membusuk ditangan seorang laki-laki yang juga memiliki seorang bunda seperti mu
Bunda aku kedinginan dan sangat kesakitan  pada waktu roh jiwaku meninggalkan aku
Aku rebah keatas tanah , setelah Aku berdiri gagah dengan kedua kakiku…
Kedua Kaki ku yg  dulu kau hangatkan dengan telapak tangan mu yang kasar karena berkebun
Telapak  tangan mu yang mulai keriput karena usia mu
Aku ingat dalam cinta mu kau bertutur ..
ketika dingin menyergap karena embun yang turun  ke atas rumah kami
Kau memelukku  dalam kasih yang tulus dan menghangatkan tubuh kecil ku
Sampai Aku terlelap dalam  damai  yang meneduhkan jiwa…

Dan masih dari ketinggian nurani ku
Aku melihat sang anak mengusap  ujung sarung bundanya
juga menyentuh dengan lembut pundak sang ayah yang keriput kecoklatan itu
sambil berjalan munuju pintu rumahnya … ia pun menoleh sejenak
dan…. Berlalu dalam malam yang pekat diantara kabut tipis yang mulai turun   
sang anak pun berlalu dalam sunyi yang abadi
sementara aku
aku akan terus berdiri di ketinggian  nurani ku
untuk melihat dan bertutur kepada mereka yang masih bernurani  ……………… 

Alm.Victor Kogoya

Alm.Mako Tabuni & Hubertus Mabel


(kawan-kawanku Roh dan jiwa kalian tetap bersama kami dalam Perjuangan bangsa West Papua)

Catatan dari kawan Chemunes YomanakFacebook

Sunday, May 19, 2013

Omong Kosong

Kau terlalu memaksa sedang aku terpaksa
Kau terlalu berambisi sedang aku tersiksa
Usiaku muda saat kau memaksa ikut dengamu
Kau tak tau apa-apa tentang aku
Kau hanya bisa dengan cerita tahayul jadikan aku milikmu
Kau terus dan terus berlaku tanpa adil
Kau memulai dengan cara-cara yang picik dan licik

Kau jadikan aku hanya sebagai budak sedang tambangku kau gadai, Hutanku kau gunduli.
Kau tak buat untuk merdeka tetapi malah menindas
Kau menjajah aku tapi pada mereka kau berkata membangun
Kau katakan bebaskan aku tapi itu hanyalah peralihan penjajahan
Kau dengan segala langkah merebut aku, memaksa menyebut engkau pertiwi
Kau katakan, aku bak anak yang terhilang sedang kau tak ku kenal sejak dahulu
Kau dan kau, lagi-lagi kau...... dengan segala OMONG KOSONGmu
Kau dan aku tak akan bisa bersatu untuk selamanya
Karena KAU TERLALU BANYAK OMONG KOSONG;
Jelas kau memang bukan dari kumpulanku.


By.Phaul Heger
@Ugd 24


Catatan Malamku

Terasa berat harus mulai dari mana
Coba kurangkai serasa sulit
Ada kata terselip tak bermakna
Serasa hampa jauh dari arti

Ah masa bodoh
Haruslah bisa, bila kuingin
Terus saja kutata kata demi kata
Tentang sebuah perjuangan
Tentang diriku,atau tentang mereka


Hidup memang penuh arti
Ada perjuangan untuk pribadi
Ada perjuangan untuk bangsa
dan Perjuangan untuk sebuah masa depan negara 

Disini aku melangkah dengan perjuanganku
Disini aku bebas walau ada batas
Disini aku jalani kehidupan untuk sementara
Disini dan disini........

Malam makin larut, jalan pikirpun buntu
Masih banyak hal terlintas tapi ku tepis
Sudahi dulu.......,
Mungkin disuatu saat nanti akan ku gores segala rasa tentang hidup.

By. Phaul Heger
@UGD 24
Concat Jgj


Monday, May 6, 2013

Kau Ingkari Janjimu


Raja siang telah meninggalkan planet bumi
Bertanda hari mulai gelap
Semua aktivitas makhluk di bumi berhanti

Pertigaan jalan tiada yang lalu-lalang
Tempat orang lewati menjadi sunyi
Di situlah yang berada kau dan aku

Tidak ada saksi
Kau berjanji dengan menunjukan
Muka senyum meyakinkanku

Janjimu…..
Kau dan aku Satu
Setia sampai ajal menjemput

Janjimu lama di makan usia
Janjimu pasti kau lupa
Janjimu kau ingkari

 By. Dogomo Agus -
(Tanah Jawa, di bawah lereng Gunung Merapi, 15/10/10)
Catatan Facebook

Thursday, May 2, 2013

Mati atau Merdeka?

Mati atau Merdeka?

Jika kita diam, kita semua akan mati. 

Jika kita Merdeka, maka kita akan hidup.

Jadi mari gabungkan diri Anda 

dengan saya untuk 
perjuangkan nasib kita bersama.

(( Free West Papua ))


Jangan Takut, Jangan Ragu

DENGAN SENJATA MEREKA MEREDAM SUARA KEMERDEKAAN
MEREKA SADAR TAK BISA PATAHKAN TUNTUTAN KEMERDEKAAN
MEREKA TAHU MEREKA SALAH, TETAPI DIDALAM KESALAHAN ITU
MEREKA BERUSAHA UNTUK MENUTUP PINTU HATI MEREKA

JANGAN TAKUT, JANGAN RAGU
50 TAHUN SUDAH BERLALU BERSAMA MEREKA DIDALAM KEPALSUAN
SUDAH WAKTUNYA BABAK BARU DIBUKA,
BABAK KEBEBASAN
UNTUK MEREBUT KEMBALI KEDAULATAN NEGARA YANG MEREKA KLAIM
UNTUK MEREBUT HARGA DIRI YANG TERINJAK-INJAK
UNTUK MEMBANGUN NEGARA YANG TELAH MEREKA HANCURKAN

SADAR DAN BANGKIT HAI GENERASI MUDA PENERUS BANGSA PAPUA
DIPUNDAK KITALAH TANGGUNG JAWAB UNTUK ITU
JANGAN BIARKAN PENJAJAH BERKUASA DIATAS DUKA KEHILANGAN
SAUDARA-SAUDARA KITA YANG GUGUR KARENA PERJUANGAN.