Thursday, September 3, 2015

Kiasan Belaka

Tersentak aku mencoba memahami
Arti sebuah kehidupan yang indah
Mungkin hanyalah hayal akan indah
Kenyataan yang terjadi berbalik
Setiap kehidupan punya cerita tersendiri
Demikian pula aku, kau dan kita
Kadang terasa manis juga pahit
Bagai sebuah roda yang berputar
Pada jalan yang tak rata
kadang menanjak dan menurun
Hidup memang tak selalu mulus

Wednesday, August 26, 2015

Papua yang Merdeka


Mentari masih terus menyinari
Perbukitan yang indah
Lautan yang membiru
Malam masih ada
Bahkan bulan masih Nampak

Papua…

Diatas tanah ini kepiluan yang terasa
Saat peluru memberondong
Terpekik suara histeris
Kagetkan malam dan terjaga

Ohh….

Mimpi buruk selama bertahun kita bersama
Masih saja terus membayangi
Dalam kenyataan demi kenyataan
Gelora dijiwa, ragaku gemetar
Tekad dan amarah menyatu
Memaksa untuk bertindak


Hai Negara? Begitukah sikapmu
Dalam memaksa kami rakyatmu untuk diam?
Mengikuti keinginan nafsumu?

Sudah, sudahlah cukup!
Biarkan kami untuk menentukan masa depan kami sendiri
Papua yang damai dalam kemerdekaannya.


Papua  yang Merdeka

Phaul Heger
Sudut Kota – 25 Agustus 2015

Monday, August 10, 2015

Adakah keadilan bagi negeriku?


Adakah keadilan bagi negeriku?
Ketika kulihat berbagai persoalan semakin menumpuk
Ketika pelanggaran demi pelanggaran terus terjadi
Ketika tekad mempertahankan mengorbankan sipil

Adakah keadilan bagi kami yang menjadi korban ?
Ketika hak-hak ulayat dirampas atas nama pembangunan
Ketika lahan-lahan berburu berganti menjadi perkebunan sawit
Ketika kayu damar dibawa pergi ?

Jika integrasi kami adalah final mengapa masih dipandang sebelah mata?
Nyatanya negara masih bersembunyi dibalik kata palsu persatuan.
Negara mengikat dengan slogan harga mati
namun kenyataan kamilah yang ditembak mati
Mengapa kami harus terus dianiaya
Dipaksakan menjadi sama, walau kenyataan berbeda

Berbeda tetaplah berbeda
Yang palsu akan terungkap
Yang benar akan menjadi nyata
Dan keadilan bagi kami akan terwujud
Bukan dengan kalian tetapi ketika negara kami berdaulat.

Papua Tetap Merdeka!
Phaul Heger
@KMS, 10 Agustus 2015

Tuesday, July 7, 2015

Negaraku Masih Terjajah


Ku terdiam merenung
Memikir setiap helaan
Menarik setiap untaian kata
Terpekik mengetahui
Sejarah kelam jadi cerita
Dibunuh dalam perjuangan
Dibantai dalam masa pendudukan
Gerilya jadi pilihan bertahan
Dikota terancam ditangkap
Menuntut dijadikan separatis
Makar dikenakan dan penjarapun penuh....
Oohhhh
Entah mengapa?
Bertanya masih dalam hening
Bertanya masih dalam senyap
Mengiri melihat sang saka diatas
Lalu kejora tersimpan dibawa
Ini bukan milik kami
Itu milik kalian
Jangan terus kau paksa
Sedang kami terus tersiksa
Oohhhh
Ku sadari dalam diam
Negaraku masih terjajah
Kusadari dalam gerak
Negaraku masih diduduki
Dengan persatuan yang palsu
Atas nama keadilan dimana hak negara kami?
Bertanya menuntut namun masih senyap dibalas perlakuan tak adil.
Negaraku masih terjajah...
Tekadku tak akan terus ku biarkan terjajah.
Bersatu untuk bangkit
Bersama kaum terjajah untuk kedaulatan
Karena kemerdekaan itu hak.
Papua tetap merdeka!

















Sudut Kota
8 Juli 2015
Phaul Heger

Wednesday, June 3, 2015

Sahabat, Jangan Pisahkan Saya!

https://scontent-sin1-1.xx.fbcdn.net/hphotos-xta1/v/t1.0-0/11377337_1097706613576964_6416823782935405214_n.jpg?efg=eyJpIjoiYiJ9&oh=8846ac395eb6d01c633586a6e3734d93&oe=55F4D5AF
Sahabat, Jangan Pisahkan Saya!
Baru bangun, tidur lelap.
Makan kenyang, minum segar.
Pulang kampus, tugas beres.
Tapi, derita jajah masih menempel.
Hidup bermuara pada benalu.
Padahal, dari sumber akar milik sendiri.
Sumber adalah bahan mentah,
Bim-sala-bim, abra-kadabra,
Hujan rupiah, 

Tanah adat hilang,
Lupa diri, pembunuhan sistematis aktif.

Katakan tidak, jika sudah memahami,
Katakan Lawan, jika sudar sadar,
Katakan akhiri, mari! 

Di satu persatuan,
Terorganisir, bertahap dan capailah maksud,
Jangan lagi ada isme-isme, buang ke-egois-an,

Satu dan Lawan di garis komando,
Garis itu terorganisir, mari akhiri.


‪#‎Sudut‬ Ibu Kota Negara West Papua,
Mamta, Port Numbay.

04 Juni 2015,
 Salam untuk mu, sahabat!
 #Sonny Dogopia

Monday, May 25, 2015

Semakin Aku Menjauh

Entah kenapa tiada mampu kupendam
Segala harap akan cinta kita
Semakin hampa ku rasa kini...
Tak seindah awal kita berjalan

Bukan terkikis oleh waktu cinta padamu
Bukan berubah sayangku berkurang
Tapi sikapmu buatku tak mau lagi
Serasa hanya tersisa aku dijalan ini

Dimana kini manja manismu padaku
Mengapa tak lagi kulihat senyum
Yang dulu memikatku jatuh hati
Kini bagai berjarak aku dan kau

Sungguh cintaku tak berkurang
Bahkan cintaku memaksa kuungkap dalam kata tentangmu...mengapa
Semakin aku menjauh
Hanya kau yang hadir....
Semakin aku menjauh semakin aku tersiksa, oleh rasa bersalahku.....

Dolorosa.....

By. PhaulHeger
@Dupiad
Kata_Pagi 26 Mei 2015

Sunday, May 17, 2015

Jangan Takut Kawan

Entah mengapa malam ini kecewa kutulis dalam kata
Kususun rapi hingga tak menyinggung
Ingin agar kau membaca tanpa merasa bahwa tulisan ini untukmu
Entah dan entahlah mengapa begitu....

Kawan seperjalanan, kita dilangkah yang sama
Hadir dari kaum yang tertindas tapi mengapa kau tak rasa
Kita disini, bukan suatu kebetulan tetapi utusan negeri yang terjajah
Kita hadir bukan sekedar mengisi tambahan pada isi kepala
Kita hadir bukan sekedar bawa nama keluarga, marga tetapi ingat kitalah bangsa
Kita pulang dengan segudang harapan akan perubahan,
Kita pulang dengan sehudang kemampuan yang baru untuk memulai
Kita pulang dengan harapan besar, membangun negeri demi bangsa kelak

Kawan, sudah sepantasnya, atas segala kebungkaman ruang ditanah air
kita bergandeng tangan selangkah untuk terus maju melawan
Tanpa harus kawan menganggap itu urusan kawan yang lain.
Sudah sepantasnya, kawan bersama untuk maju, berjuang melawan
walau hanya hadir dan ambil bagian.

Berbanggalah hadir dinegeri orang dan menjadi salah satu bagian dari perjuangan
Bukan menjadi bagian dari para penakut yang selalu menanggap kemerdekaan kita adalah mimpi
Bukan seperti mereka yang menganggap sudah hebat karena apa yang dituntut adalah sesuatu yang tidak mungkin.


Jangan takut.....
Kitalah pemenang kawan,
Karena kebenaran yang kita tuntut adalah seperti apa yang kita imani
Papua Tetap Merdeka
 
PhaulHeger
@SudutKotaKolonial
17 Mei 2015

#Semoga Kawan2 yang tidak pernah ambil bagian didalam aksi2 Papua dapat mengambil bagian lagi.

Saturday, May 9, 2015

Puisi untuk Pengibar Bintang Kejora


Kulihat, cakrawala terang, cahayanya tak pernah pudar
Disana kulihat kuasa Tuhan yang sempurna akan janji Nya
Janji kesetianNya untuk bersama saudara-saudaraku
Saudara-saudara yang selalu hidup bersama keteguhan.













Inilah kekuatan yang tidak pernah mati dan selalu hidup
Bersama prinsip-prinsip atas takdir Nya sebagai bangsa merdeka
Merdeka dari penjajahan, merdeka dari para penindas
Merdeka selama-selamanya sebagai sebuah bangsa.
Meski kilat menyambar, angin menggoncang, senjata mengancam
Kalian tidak pernah gentar, itulah kemerdekaan mendarah daging
Tidak ada satupun yang mampu menahan
Bintang Kejora berkibar di cakrawala terang menjadi matahari terbit.

MERDEKA...!!!

Yudi Syamhudi Suyuti
Presiden Negara Rakyat Nusantara
10 Mei 2015

Friday, April 10, 2015

Harapan Kita Merdeka

Terpaksa kami jalani hari hari yang ada.
Ingin sejenak untuk pergi tak kembali.
Biar musnah semua mimpi ini ditelan waktu.
Kisah tanpa kasih, Cerita Penuh duka.
Bertanya pada malam sedang siang juga sama...
Ingin berontak...
pastilah dilayani timah panas.
Ingin bertanya
sudah pasti jawaban pembungkaman...
Terasing bagai ditanah orang.
Terasing bagai diperantauan.

Adakah masa untuk menanti berakhir?
Biar secercah harap bertumbuh
Biar ada senyum mengembang walau getir
Setidaknya kami sudah bebas.
Harapanku,
harapanmu dan
harapan kita bersama
untuk merdeka, bebas tanpa penjajahan.

@Sudut Kota
PhaulHeger
11 April 2015

Thursday, April 2, 2015

Negara Membungkam

Masih tersimpan jelas tragedi kemanusian, nyawa generasi yang mati atas nama perjuangan.
Disini... didalam catatan paling dalam dari hati. Diam dan tenang hanya hembusan tanpa kata.
Merenung memikirkan...
Semua niat baik terkesan hampa.
Semua cara baik hanya berlalu
Negara meredam atas nama persatuan. Bahkan disamakan dengan teroris.
Yang membantai, yang mengebom, yang menghancurkan kelompok minoritas dibiarkan, yang menggunakan agama sebagai tameng alasan pemaksaan kehendak dibiarkan merajalela.
Negara membungkam, diam seribu alasan....
Bagaimana mungkin membiarkan nyawa mereka yang berjuang atas nama hak kemerdekaan bernegara dihilangkan... Memaksa atas nama pembangunan merusak tatanan kehidupan berbudaya....
Kami menolak mereka memaksa...
Kami merasa, kami jalani dalam keseharian..
Negara yang tak melindungi rakyatnya, negara yang terus mengabaikan semua aspirasi...
Mengapa....
Mengapa....
Negara membungkam suara kami...

By. Phaul Heger
@Dupiad 2/4/2015

Tuesday, March 31, 2015

Dolorosa, Adakah Rindu?

Dolorosa.......
Adakah rindu untukku...
Sesaat kau pergi, sepi bagai bertahun...
Berjalan sendiri kususuri malam.
Melangkah dan melangkah tanpa kau disisi...

Hening dan makin hampa tanpa kabar...
Rindu menyiksa memaksaku untuk goreskan dalam tulisan...
Tak ku sampaikan dalam kata padamu...
Tapi jauh dilubuk hati rindu dan rindu padamu,
cepatlah kembali temani kesendirian ini....
Agar cerah mentari diesok dapat kugapai bukan lag mendung kesunyian gelap yang kulewati...

Dekat serasa biasa kita jalani, ketika jauh terpisah rindu menyiksa...
Dari aku yang menantimu....
Love u putri melanesia....
Dolorosa....

Phaul Heger
Dupiad, 31 Maret 2015

Tuesday, March 10, 2015

Goresan Kata Pagi Ini

Dingin pagi menusuk kalbu
Hingga meresap jauh kedalam
Masih hening disana-sini
Sepi......
Hanya samar terdengar tetesan embun menetes....

Membayang didalam angan
Hanya dalam lintasan
Aku menggenggam harap
Tetapi cemas lebih memaksa
Buatku terpaku dalam helaan nafas

Ingin aku berlari dipagi
Lepaskan semua keluh pada gelap...
Hempaskan semua ragu pada waktu...
Hingga kuraih semangat dikala fajar menyingsing....
Saat mentari terangi jagad....

Ohhh sudahlah, kesah hanya buat resah....
Hingga susah jadi temanmu...
Abaikan saja....
Jalanilah saja setiap takdir
Tanpa harus kau sunguti......

Goresan kata pagi ini...

Mgw@PhaulHeger
11/03/2015

Monday, March 9, 2015

Selamat Jalan Kawan Rinto Kogoya

Hati tak bersuara bagai beban semakin hangat
Air mata mengalir bagai mengalirkan darah
Seraya dunia dalam hening
Hari yang Kau (Tuhan) janjikan pun tiba
Tanpa simponi dan suara bagai angin
Yang datang menyambar badan menusuk di sanubari ini

Ohh Tuhan…!

Apakah ini kenyataan yang terjadi untuk kami bangsa West Papua?
Apakah ini yang Kau berikan dengan tidak memberikan sapaan-Mu?
Tuhan, kami tidak sanggup kehilangan Figur pejuang ini
Kami tidak sanggup menerima kenyataan ini
Hari itu, tepat tanggal 8 Maret 2015
Kami dengan kecewa mendengar kabar yang menyakitkan
Kami kehilangan Figur pejuang Papua Merdeka
Comrade Rinto Kogoya

Sungguh!

Hari ini, bangsa-Mu menangis akan keadilan-Mu
Bangsa-Mu rindu akan kemerdekaan bagi bangsa West Papua
Mengapa harus kau ambil lagi Figur ini?
Mengapa harus seperti ini lagi?
Kami terus ditindas dan dimarginalkan
Oleh bangsa Kolonial ini
Bangsa yang tidak mencintai hidup damai bagi bangsa West Papua

Ohh Tuhan!

Air mata terus mengalir bagai air yang mengalirkan darah
Air mata ini mengalir menyimpan luka dan sukma yang dalam
Kami sadar dan kami mengerti
Bahwa hidup ini akan berjalan sama seperti anugerah-Mu yang ilahi

Sungguh!

Bagimu Comrade Rinto Kogoya
Kau adalah pahlawan bagi kami
Kau adalah senjata bagi pembebasan bangsa West Papua
Demi figur-figur baru yang akan bangkit
Melawan kemelaratan bangsa West Papua

Selamat jalan Comrade Rinto Kogoya!


Colonial land, 09/03/2015, 05:28 am
 Logo AMP 
Logo AMP

From your friend
Papuan Student Alliance Committee of Yogyakarta

Sumber : AMP YK

Sunday, March 8, 2015

Selamat Jalan Camrade

Saat malam menghampiri disudut kota kolonial
Dengan goresan kata ikuti setiap cerita hidup
Semangat membayang hingga kembali terang
Namun berita itu kudengar, duka yang hadir
Rubahkan semua suasana,
Tak menyangka tapi takdir berkata lain

Hening sesaat tak ada kata untuk wakili setiap kesedihan dihati
Kepergianmu terasa begitu cepat, kepergianmu terasa belumlah saatnya
Terkenang raut wajahmu kawan, dalam setiap aksi dijalanan
Kau bagian dari kumpulan yang setia digaris ini
menuntut pada penjajah untuk kedaulatan bangsamu

















Masih kuingat saat itu, kala kita berlatih bersama untuk sebuah lagu natal
Ada kebersamaan tercipta harmoni, walau kadang ada juga perdebatan
Kini semua tinggal kenangan, kami yang tersisa akan terus melanjutkan
Setiap cerita baik tentangmu jadi inspirasi dan motivasi




Selamat Jalan Camrad Rinto Kogoya, 
Kawan Lama di Aliansi Mahasiswa Papua
Semangat Perjuangan Tetap Kami Lanjutkan
Hingga Kebebasan Tercapai.

Minggu 08 Maret 2015
MGW @Phaul Heger


Friday, February 20, 2015

Kepalsuan Yang Ada

Cerita yang berubah seiring waktu
Terbius dalam setiap kata yang terbaca
Entah benar entah salah....
Terbawa kedalam hati
Tercerna diotak
Terbawa dalam langkah dan
Terjadi dalam kehidupan
Cerita yang berubah dari nyata menjadi hayal
Ilusi tersisa dalam penghayatan
Makna yang sesungguhnya terkikis
Terhempas dan hilang
Andai benar ceritamu, mengapa kau abaikan ceritaku
Andai benar perjuanganku, mengapa kau batasi setiap gerakku
Hingga tak mampu aku berbuat
Hingga tak bisa aku berucap
Dalam kepalsuan ceritamu aku hanya mendengar
Dalam kepalsuan tentang sebuah mimpi
Aku tak lelap, deritaku bersamamu akan berakhir seiring dustamu yang semakin kentara.
Aku, perjuangan dan ambisiku tentang sebuah pembebasan.
Cukuplah sudah Cerita palsumu wahai si penjajah...

@BLC
2015/2/20
PhaulHeger

Saturday, February 14, 2015

Sa Hanya Mengikuti

Sa tratau apa yang sesungguhnya
sa juga hanya berdasar pada kenyataan
dari cerita yang diturunkan
sa bukan bagian dari pelaku di zaman itu
sa ada disaat ini sebagai kelanjutan
yang akan setia digaris bersama
untuk perlawanan terhadap si penjajah


Sa hanya mengikuti tanpa terpaksa
tidak berharap bahwa ini mimpi
yang jadi teman malam
atau ini hanya hayalan separatis
ini fakta berdasar apa yang sa ikuti
sa tetap optimis, saat itu akan tiba
tra sia-sia apa yang diperjuangkan

Kalo bisa untuk sa bergerak
sa tetap bergerak, tra menunggu
karena jalan panjang ini sudah hampir sampai
ayo sama-sama untuk kemerdekan
ayo sama-sama untuk usir penjajah.


By. Phaul Heger
@Sudut Kota Kolonial 2015