Tuesday, November 29, 2016

Diamku Padamu, Merdeka!


Diamku Padamu, Merdeka!

Senyap... gelora yang terpendam
Tak terungkap dibalik paksaan
Sindirian diabaikan apalagi kecaman
Diamku diam tak rela

Kataku pada malam lekaslah pergi
Siang yang datang masih sama
Memaksapun tak mengubah
Diamku diam yang terpaksa

Hari ku lalui dalam berita
Tentang kisah pilu suara merdeka
Tanah terampas rakyat digusur
Mahalnya sembako murahnya tenaga
Yang dekat nikmati yang jauh melarat

Diamku diam yang tak menerus
Telah kupatri saat kau terlena
Pada saatnya nanti kau dengar
Membahana melintasi batas batas
Suaraku menggelegar menghancurkan
Tak mampu kau bendung

Merdeka! Merdeka! Merdeka
Biarkan aku menggapai merdeka.

By. Phaul Heger
SdK 29 November 2016

Thursday, October 27, 2016

Bersumpahlah Untuk Merdeka

Bersumpahlah Untuk Merdeka

Wahai generasiku....
Ingatlah bangsamu masih dijajah
Tanah airmu telah dirampas
Pendudukan bangsa asing itu masih bercokol
Kau tersingkir dari kebebasan

Harapan kejayaan pupus hanya mimpi
Selagi masih bersama mereka
Yang datang tanpa diundang
Yang makin menguasai setiap jengkal tanahmu

Bersumpahlah!
Bersumpahlah untuk merdeka
Rebutlah kedaulatan bangsamu
Persatuan yang kuat, Barisan yang siap
Menuju pembebasan.

Papua Tetap Merdeka

Salam Juang
By. Phaul Heger
28 Oktober 2016
SdK

Monday, October 17, 2016

Ah Ko Datang Lagi


Ah...ko datang lagi
Masih bicara yang sama
Trada beda dengan yang lalu
Ko bicara ekonomi abaikan yang mati
Ko bicara pembangunan merusak tatanan adat
Ko anggap tuntutan rakyat hanya angin lalu

Ah... disini hukum menindas
Rakyat tak punya ruang
Otonomi hanya ilusi dan semu
Kejora lambang perlawanan
Rakyat kibarkan menentangmu

Bila ko dipihak rakyat...
Turutilah kehendak  bila kau berani
Dinegeri setengah demokrasi yang dirampas.
Biarkan kami berdiri sendiri.

Oleh Phaul Heger
SdK Oktober 2016

Thursday, October 13, 2016

Kenapa?


Kutulis sesalku padamu
Tentang keraguan yang kau tampakkan
Tentang tujuan yang kau anggap belum
Tentang ambisi dan harapan yang jauh

Kenapa?
Masih kau pertahankan tanpa berubah
Masih kau paksa untuk ikuti
Bagaimana ini dan bagaimana itu...

Diam bak lukisan dinding
Memecah dikesunyian tanpa gerak
Masih terpaku, bisu...
Kenapa.....
suara itu masih dibungkam?

By. Phaul Heger
SdK 13 Oktober 2016

Friday, September 30, 2016

Selamat Jalan Kawan


Hidup terasa begitu singkat
Kemarin kau nampak sehat
Tak ada tanda bahkan firasat
Saat berbagi cerita yang singkat

Siang tadi kudengar beritamu
Ajal telah menjemputmu
Kembali kepada sang pencipta
Malam ini kau terbaring kaku

Oh kawan....kan kukenang
Kita bersama telah mengukir sejarah
Diatas jalanan kota walau dihadang
Untuk sebuah nasib bangsa

Semangat itu tetap ada
Jasadmu tiada namun namamu tergores
Dikenang kawan segaris

Selamat jalan kawan Jerry

By. Phaul Heger
Kms 30 September 2016

Thursday, September 29, 2016

Sial, Puisi Dicopas Diganti Nama Lagi


Mengisi waktu sambil browsing browsing tentang puisi trus ketemu sama judul judul puisi yang tidak asing alias sa pu hasil karya.

Awalnya senang dishare diblog lain juga. Intinya bagian dari mendukung perjuangan dengan tulisan. Baik artikel umum maupun dengan sastra puisi dll.

Dibagian akhir dari isi puisi itu yang sa sangat geram. Masa diakhir tulisan ditulis karya dan namanya sedangkan jelas tulisan atau puisi itu karya saya.

Adooh parah ini. Kurang kreatif namanya. Jangan hanya copy paste lalu ganti nama sesuka hati. Ko bisa dituntut. Trabaik pake cara begitu kawan.

Sa pu harapan kawan kawan yang suka berbagi silahkan saja tapi tetap harus menghargai karya orang. Sertakan link sumber dan juga penulis puisi.

@dmin
2016

Wednesday, September 28, 2016

Baku Tipu Disana


Disana didepan pertemuan bangsa bangsa
Cerita kelam tentang sebuah negeri masih ditutupi
Katanya sudah sejahtera adil makmur
Bahkan pelanggaran ham sudah diatasi

Tapi mana? Hanya baku tipu
Mereka terusik saat bangsa yang menghormati ham
Bersuara berdasar fakta tentang hak merdeka.
Negeri itu diduduki setengah abad dengan kedok pembangunan.

Papua, surga yang terampas
Melanesia belum bebas bila Papua masih dijajah.
Indonesia...
Baku tipumu hanya menambah deretan catatan
Bangsa penjajah ditanah yang diduduki.

By. @Phaul Heger
SDK Akhir September 2016

"Sepanas terik mentari demikian pula semangat perjuangan bangsa Papua untuk merdeka"

Tuesday, September 27, 2016

Generasi Buta


Generasi Buta Sejarah

Termanja pada kemajuan teknologi
Bebas mencari pembenaran tanpa pembuktian
Berambisi tanpa melalui proses per tahap
Senang dipuji dalam tulisan bukan ungkapan

Sejarah bukan lagi suatu keharusan
Sejarah sekedar mengetahui peristiwa masa lalu
Lebih menguasai deretan aplikasi baru
Yang diluncurkan sipemilik....

Terbeban pada kouta makin apatis disesama
Menyapa distatus abaikan pertemuan nyata
Makin menjadi jadi dan lupa asal muasal
Semua serba searching google

Teknologi yang maju
Generasi yang buta
Teknologi yang hebat
Rakyat disisi lain makin melarat

By. @Phaul Heger
SDK Akhir September 2016

Friday, September 23, 2016

Bendera Kita Tetap Sama


Bendera kita masih tetap sama
Bahkan tujuan dan pilihan perjuanganpun satu
Menuju puncak dengan usaha
Walau ditantang sang penjajah tak tahu malu.

Bendera kita masih tetap sama
Suara pekikan menderu lantang
Menuntut dari ujung keujung
Sampaikan maksud pada bangsa bangsa merdeka

Bendera kita masih tetap sama
Untuk sebuah masa ketika terbebas
Tanpa kerakusan dari si perampas
Kita bangsa merdeka dan harus merdeka

Bendera kita masih tetap sama
Bunyikan genderang perang
Lagukan tarian semangat dipelosok negeri
Bangunkan yang tertidur bisu

Bendera kita masih tetap sama
Pertahankan kedaulatan tanah air
Bangsa dan negara tercinta
Yang diperjuangkan dengan penuh susah payah

Bendera kita tetap sama yaitu Bintang Fajar.
Merebut yang seharusnya...dan melawan untuk kebebasan.

Papua Tetap Merdeka

@phaul heger
SDK September 2016

Sunday, September 18, 2016

Goresan Rindu


Pena bergerak kertas tercoret
Perasaan diungkap dalam kata
Merangkai dalam setiap goresan
Kata hati untuk sebuah rindu

Cinta derita hati tanpamu
Resah semakin lama ditinggal pergi
Ingin berbagi rasa tentang keluh
Tak sama, padamu ku bebas

Memang jarak ini memaksa
Terhubung dalam media
Saling sapa tapi fisik jauh
Sama saja hampa tanpamu

Rindu dan rindu bersemayam
Mengharap bersua
Lekaslah.... cinta pulang padaku
Hanya itu harapku diakhir goresan

@Phaul Heger
September 2016

Wednesday, September 14, 2016

Curhat: Perjuangan Ibarat Membangun Rumah

 
Ini perjuangan seperti apa dan untuk apa? membangun sesuatu yang besar untuk masa depan generasi ataukah hanya untuk sekedar menuliskan dan menitipkan nama pada sejarah agar terus dikenang oleh generasi.

Ibarat sebuah rumah yang telah dibuat pondasinya, rumah itu telah direncanakan dari waktu ke waktu belum juga diselesaikan. Apa penyebabnya? apakah ada gambar yang masih salah dalam hitungan. Ataukah ambisi para tukang bangunannya dalam mengerjakan. Mereka saling ego menunjukan skill yang dimiliki. Rumahpun masih dalam kondisi berpondasi tetapi belum juga dilengkapi dengan tiang-tiang penyangga atap.

Mungkin butuh bahan bangunan yang kuat, atau semen yang bagus. tetapi pemikiran menyangkut bahan juga masih penuh rerorika dan ambisi serta ego yang makin silang menyilang.
Penghuninya menunggu dalam ketidakberdayaan; menunggu para penagambil kebijakan dan keputusan duduk bersama merumuskan bentuk dan susuanan juga hitungan yang tepat agar rumah itu tetap kokoh tak goyah oleh badai.

Hey tukang-tukang yang hebat, merendahlah dan jangan lagi saling sikut, mainkan dan kerjakan bagian masing-masing. Buatlah sesuai dengan apa yang kau ketahui, koordinasikan dengan tukang bagian rumah yang lain. Dapat dipastikan rumah besar yang diinginkan akan segera jadi dan siap untuk dihuni.

 Sent By. +Phaul Heger 

Pagiku, Sudut Kota


Mentari pagi tlah bersinar iringi langkahku
Beranjak sejenak dari rutinitas tak biasa
Mencoba tenangkan pikiran dari ambisi
Hingga berjalan dikesunyian pagi

Ku telusuri jalan hening nan panjang ini
Melangkah tanpa arah yang pasti
Biarkan kemana ayunan kaki bergerak
Kuikuti dan ikuti hingga perhentian

Ilustrasi didramatisir
Ambisi positif dipolitisir
Semua mengarah pada kesia-sian
Oh hidup yang singkat untuk minggat

Tersadar...
Kehidupan selanjutnya menanti
Sudahkah aku dijalan kebenaran?
Pikiran menerawang tubuh bergoyang
Kaki masih tetap terayun ketujuan

Pagiku...
Sudut kota nan sepi
@phaulheger
September 2016

Friday, July 8, 2016

Puisiku Harga Mati Tanpa Dasar

Siswa SMA korban penembakan

Lembaran kehidupan bercerita tiada henti
Bertebaran foto-foto korban dari waktu ke waktu
Hiasi hari muram dalam duka
Tangisan pilu yang membisu

Satu yang pergi tanpa sebab
Terdengar diutara hingga timur
Juga dibarat hingga selatan
Raga tanpa nyawa meregang
demi sebuah perjuangan

Kematian bukanlah takdir
Bila direngut paksa untuk alibi
Persatuan bak bingkai besi
Karatan diujung tepi sudah rusak

Tak bisa dipertahankan lagi
Seharusnya bangsa itu sadar
1000 cara yang dipakai tak mampu redam
Masih ada sejuta langkah untuk menggapai

Kebebasan bangsa Papua sudah mutlak
Akan diakhiri oleh generasi ini
Bukan lagi membiarkan sipenjajah
Membuat susah hingga akhir

Harga matimu tanpa dasar
Sebatas perjanjian antar penjajah
Lagi dan lagi kepalsuan yang terkuak
Bangsaku telah siap untuk bebas
Terlepas dari ikatan palsu

Papua Tetap Merdeka
Papua Tetap Merdeka

By. Phaul Heger
Sdk 8 juli 2016

#PuisiPapua #Goresankata #Katahati

Thursday, June 9, 2016

Niatmu Terbaca, Bangsaku Siap


Bukan aku yang memaksa untuk tetap bersama
Kau sadari tentunya kita memanglah berbeda
Dari awal telah ku pilih, tapi kau memaksa
Segala cara dan ambisi dibalik kata

Kau ungkap dengan penuh hati-hati
Atas nama nasionlisme bangsa
Kau hancurkan tembok-tembok
Penjajah yang datang katanya

Kau berkata dalam kebohongan pada generasi
Kau terus kelabui dengan taktik licik tanpa bukti
Kau hadirkan tokoh pewayangan gantikan leluhur
Yang penuh inspirasi pertahankan tanah adatnya.

Aku dan kita, kau dan mereka semua yang hidup
Menjadi korban dari rezim penuh kepalsuan
Manakala ambisi dijadikan senjata terselip
Mengatur pada aturan tapi tak realistis
Bersembunyi dibalik pasal-pasal 

Ohh sudahlah...
Terbaca jelas semua niatmu
Bangsaku tak tunduk diam
Bangsaku telah siap untuk bebas
Kau lihat....
Kesadaran dan tekad
Menjelma dalam persatuan
Menjadi sebuah Kekuatan
dan siap hancurkan

by. +Phaul Heger
Sdk Juni 2016

Kusadari Sepi


Merenung dimalam yang sepi
Tanpa teman yang temani
Serasa semua menjauh pergi
Ingin rasanya berlari
Mengejar dan menggapai

Kusadari....
Hidup memang tak selalu ramai
Kerumitan yang selalu mewarnai
Mungkin telah hilang simpati
Hingga tak tau dinanti
Biarlah takdir dijalani
Hingga berakhir pergi

Malam sepi
Disudut kota ini.
Segelas kopi dan coretan malam

Sdk Juni 2016
By. +Phaul Heger 

Sunday, January 10, 2016

Jangan Dengar Kata Mereka Tentang Kita


Kata mereka tentang kita
Tak lebih dari orang orang tertinggal
Jauh dari kepandaian yang bisa
Maju memimpin bukan mimpi
Membangun bukan dalam tidur
Terlaksana dalam tindakan
Terwujud yang dilihat
Itu kata mereka
Kalian belum bisa
Untuk berdiri masih butuh pegangan
Untuk berjalan perlu tuntunan
Tapi....
Tapi benarkah kata mereka?
Itu tidak benar kawan
Itu hanyalah cara mereka
Kita direndahkan demi ambisi
Kita diremehkan karena kekuasaan
Kita dibuat bergantung karena ekonomi
Kita dipinggirkan untuk terus dijajah
Tanah kita kaya
Hutan kita luas
Mereka tak akan puas
Mengambil dengan beringas
Mereka akan terus merampas
Entah sampai kapan....
Haruskah kita berdiam kawan?
Sesali tanpa beraksi
Melihat tanpa hasrat
Mendengar tapi ingkar
Tidak kawan
Tidak kawan
Kita harus lawan
Kitalah penerus yang bertanggungjawab
Pada anak cucu kelak
Satukan kekuatan
Jalan sendiri itu melemahkan
Kita bersama akan jadi kekuatan
Bebaskan tanah air dari pendudukan
Wujudkan kemerdekaan

Jangan dengar kata mereka tentang kita
Fokus pada langkah perjuangan
Abaikan penghambat perjuangan
Terus melangkah kedepan...
Dan yakinlah bahwa Papua Tetap Merdeka

@Phaul Heger
Sudut Kota 10 Januari 2016

Tuesday, January 5, 2016

Gejolak Tanah Air - TPN Tetap Jaya


Bermodalkan senjata rampasan
Jadi milik untuk perjuangan
Ditambah satu dan dua warisan dari masa lalu
Ditengah rimba tanah air dikuasai
Berjaya hadapi musuh
penjajah ya penjajah
yang menduduki tanah ini
yang dengan rakus mengambil
hasil alamnya
bagi penjajah.....
siapa menantang, nyawapun melayang
siapa yang maju penjara menunggu
kita tak gentar.....

kau lihat diatas sana
Hutan menjulang
Bukit menantang
Tentaraku menjaga
Sesekali diberita
satu dan dua nyawa tewas tertembak
sesekali tudingan sipil bersenjata
juga kelompok tak dikenal
namun mereka jelas
tentara gerilya untuk pembebasan nasional
nama yang tak dikenal namun terus berjuang
demi penegakan kedaulatan
Gejolak tanah air pastilah ada akhirnya
Ketika kita menang dan penjajah kalah
Mengakui yang bukan kepunyaannya.

TPN tetap jaya


@Phaul Heger
Sudut Kota 05 Januari 2016

Sunday, January 3, 2016

Suara Sumbang Siburung

https://kicauan.files.wordpress.com/2014/06/gntung-pleci-di-pohon.jpg?w=620&h=462
sumber omkicau.com
Ku sambut mentari pagi yang bersinar
terhalang oleh lebatnya dedaunan
hanya seberkas namun cukup untuk hangati
udara pagi yang tak lagi segar
tercemar polusi  buat sesak didada
embun-embun menetes disela dedaunan
basahi tanah yang kering
suara burung terdengar samar
kicauan yang tak lagi merdu
bernada sumbang tak seirama
sudah berbeda ditiap musim
sudah berganti sahut yang satu
sangkar-sangkar indah dibuatkan
tangan-tangan terampil mengelola
seindah mungkin dalam pandangannya
tapi jadi penjara bagi siburung
suara sumbang siburung terasa indah bagi sang pemilik.....
adakah ia tahu, siburung terpenjara
oh pagi yang serasa malang
dengan hiburan suara sumbang
ingin secepatnya akupun pulang

@Phaul Heger
Sudut Kota, 04 Januari 2016

Saturday, January 2, 2016

1000 Kali Kau datang, Kami Tak Butuh














Kau pikir dengan hadirmu
diatas tanah ini dapat menghapus semua duka?
Kau pikir
dengan datang dan berkunjung, itu sudah cukup?
apakah kau anggap
semua yang terjadi ini dapat diselesaikan dengan satu, dua kata saja
Kau kira
apa yang kami perjuangkan sebatas mengisi perut saja
atau untuk alasan itulah kami terus ada dijalan?
meneriakan yel-yel dengan suara lantang
menuntut penguasa penjajah tanah kami
yang menggusur hak-hak ulayat
hutan sagu yang diganti menjadi sawah
atau alam yang semakin rusak
yang menambah  pilunya mengingat
berbagai peristiwa dari waktu ke waktu














1000 kali kau datang ditanah ini hasilnya akan tetap sama.
 Tidak....Tidak kami tak butuh itu........
Apa yang kau pikir adalah bentuk penyelesaian
Tak sama dengan yang kami pikir
Sangat jauh berbeda bak langit dan bumi
Yang kami inginkan adalah, bebas menetentukan masa depan kami
Sebagai sebuah negara yang merdeka, berdaulat.
Negara yang hadir dari kami, lahir dari kami
dan untuk masa depan kami.

@Phaul Heger
Sudut Kota 2 Januari 2016

Friday, January 1, 2016

Berdiam Dengan Harapan

 Lama aku berdiam tanpa menggores
Sebatas kata dilembaran kertas putih
Atau sebatas kata  yang terangkai
Keluar dalam ucapan

Semakin lama berdiam tersiksa oleh waktu
Terlena hingga banyak hal terlewati
Yang terjadi disana, ataupun disini
Tapi aku masih terus membungkam

Tak tahu, entahlah....
Ini hari awal ditahun  ini
Tak seperti tahun yang lalu
Aku masih terus berdiam

Perlahan ku coba arahkan pandangan
Meresapi setiap makna dalam hidup
Yang ku jalani dalam keseharian

Entahlah...
Aku masih disini, dengan segudang harapan

Phaul Heger
@Sudut Kota 1 Januari 2016