Wednesday, July 26, 2017

Cerita Mitha

View Article


*Cerita Mitha*

Kututup telinga Rita
Ketika terdengar lagu "Mitha"
Agar tak diingatnya derita
Rentetan duka yang bercerita
Kututup telinga Ita
Kala Mitha bercerita
Agar derita tidak bercerita
Tanpa kejelasan berita
Mengapa suka bercerita
Tentang derita yang tercipta?
Sudah punahkah cita
Yang dapat dirangkai dalam gita?
Mungkinkah derita seperti gurita
Memasung cita bungkam dalam cerita?
Mungkinkah Mitha penebar berita
Bergita tentang cerita derita cinta?
Kututup ingatan tentang kita
Biar bungkam cerita cinta
Tapi bukan dengan lagu Mitha
Cerita cinta tidak harus tersita
Kita bukan gurita
Menggenggam derita bersanding berita
Selalu ada cita dalam gita
Untuk hidup tanpa lintah derita.
Kita bukan Nobita
Melekat sial seperti lintah
Hidup perlu cerita
Tapi tidak selalu tentang derita.
Kututup telingaku dari lagu Mitha
Kulantunkan gita
Memimpikan cita
Tentang cinta yang tanpa derita.
Bolehkah kelak bercerita?


Oleh: Pencinta Hujan Pagi

(Manokwari, 220717; terinspirasi tulisan protesnya Javiera Rosa terkait lagul2nya Mitha)

Bila Aku Papua

View Article
 
Bila aku Papua
Badanku akan hitam
tak bisa ditembus cahaya kejahatan
Rambutku akan hitam
bagai hutan lebatku yang tetap lembut
saat ditinggal matahari
Mataku akan lebih hitam
karena aku telah menghirup uap granit
dari tubuh pijakan kuda-kudaku
Rahangku akan hitam
karena harus menyangga gunung-gunung
yang selalu diselimuti legam abu-abu tua mendung abadi
Bahuku akan hitam
layaknya berjuta tahun tegap dibebani malam dinding-dinding bukit
Tanganku akan hitam
dibakar gua gua emas
di selingkaran terjal terjal perut bumiku
Demikian lah indahnya hitam
karena itu
jiwaku akan hitam
yang tak pernah meratap
lazimnya jiwa yang paham bahwa merdeka adalah sukmaku
yang tak pernah terampas
bagiku merdeka adalah bintang-bintang timur
yang tak goyah
tak redup
oleh datangnya pagi
pagi lah yang menemani bintang bintang timur hasrat merdekaku
merdekaku tak boleh dirampas
karena merdekaku adalah
senjata merdeka bangsaku yang akan indah jiwanya
apa lagi
kalau bukan jiwa merdeka.
Aku akan hitam
layaknya Papua Merdeka
walau aku orang Indonesia
karena ingin baik hati,
jiwa yang indah.

Oleh: Danial Indrakusuma

Friday, June 30, 2017

Sesama Dipinggiran

View Article

Sesama Dipinggiran

Terdiam membisu saat malam
Terpaku pada bisikan hati kelam
Terlihat dikehidupan yang fana
Manusia berlomba mengejar sesuatu

Hingga melupakan kasih
Hingga mengabaikan sesama
Bahkan yang terdepan terus melaju
Lalu diemperan masih ada yang tertidur

Manusia lupa diri pada sesama
Akankah sama, ataukan berbeda
Bila nanti kelak negeriku merdeka
Akankah ada yang terabaikan

Mungkinkah para penguasa negeri itu
akan sama seperti disini?


Sudut malam kota..
Sesama dipinggiran kota ini

By. Phaul Heger
KLS Akhir Juni 2017

Wednesday, June 28, 2017

Beda paham saling sikat

View Article

Beda paham saling sikat

Beda paham saling sikat
Yang pandai bangga hati jadi lupa
Yang biasa dianggap perlu belajar
Semakin hebat lupa diri

Memang ego itu wajar
Tetapi gunanya apa terus sebar kesombongan
Keangkuhan yang nyata  depan nyata
Selip kata kritik sana kritik sini

Kepandaian ada batasnya ketika tersisa raga beku
Kembali pada sang khalik
Akankah pemikiranmu itu dilanjutkan?
adakah yang akan mengenangmu?

Sadarlah, saling mengisi untuk perjuangan
Membangun kesadaran dengan tepat
Tanpa terus mengkritisi tetapi terlibat langsung
Rakyat juga bisa paham tanpa ajaran paham lain.

Beda Paham merusak persatuan dan perjuangan.

Salam juang.

Phaul Heger
KLS akhir Juni 2017


Tuesday, June 27, 2017

Trada Sesal

View Article

Trada Sesal

Untuk apa disesali yang telah terlewati
Jalan ini telah sa pilih untuk lewati
Mungkin tak semulus jalan disana
Disini penuh kerikil tajam yang menusuk

Untuk apa bersungut, kaki tertusuk darah menetes
Jalan ini, sudah setengah tertatih tetap mampu berjalan
Dijalan ini pula kan membawa kepada tujuan perjuangan
Anak bangsa yang berjuang untuk negaranya merdeka

Kita!, bukan sa atau ko, atau dia
Dijalan yang sama tak perlu saling sikut
Merapat kesepahaman membangun bangsa
Wujudkan negara yang berdaulat

Papua Tetap Merdeka!

By. Phaul Heger
KLS Juni 2017

Monday, June 26, 2017

Embun Terhapus Matahari Pagi

View Article

Embun masih menitik diujung rumputan liar
Dedaunan basah juga tanah dari hujan semalam
Suara burung ikut menyapa selamat pagi
Sinar mentari hangatkan diri ini

Bukit-bukit tinggi menjulang
Hijau asri dalam pandangan
Nun jauh disudut sana
Yang menambah pesona cantiknya alamku

Tanah air, bertekad memulai dengan senyum
Tanpa harus terburu-buru
Mengejar ambisi menguras alam
Tetap santai menikmati hidup

Anugrah dan pemberian sang Kuasa
Kita patutlah bersyukur
Menjaganya untuk masa depan anak cucu.

Matahari pagi
KLS - Juni 2017

Kebuntuan

View Article


Gerimis diluar, gelap malam membisu
Kebuntuan kurasa, menghinggapi sudut nalar
Telah kucoba memaksa otak untuk berpikir
Entah Kata apa yang akan kutuliskan
Mungkin tentang sebuah perasaankah
Ataukah tentang serba serbi kehidupan
Sudahlah simpan saja ilusi, buang saja hayal itu
Pergi sana dan tidur...
Terjaga!
Sepi malam ditemani rintik
Yang masih jelas diatas atap rumah
Hingga dirikupun masih sulit memejam mata ini
Kebuntuan dihening, biarkan saja hingga pagi

KLS, Akhir Juni 2017

Wednesday, June 14, 2017

Fokus, Jangan Sibuk Mengkritik

View Article
Ada seorang kawan sebut saja si A yang berjuang untuk sampai ke bulan. Dan ia sudah punya persiapan untuk sampai kesana.

Saat yang sama ada juga seorang kawan yang punya perjuangan untuk mencapai bintang; sebut saja si B, ia tidak mempersiapan tahapan kesana tetapi malah sibuk mengkritisi apa yang diperjuangkan oleh si kawan yang menuju kebulan.

Sementara si A tetap fokus pada tujuannya; si B tak pernah mendapatkan balasan atau tanggapan dari si A.

Hanya sebuah ilustrasi; semoga kawan mengerti, masing2 berjalan sesuai tujuan perjuangannya.
Tak harus terus mengkritisi tanpa mengetahui isi didalamnya.
Kembali fokus pda tujuan masing masing.
 
#phaulheger #kopimalam